One Man – One Bike – One Planet

The First Indonesian Motorcyclist to Ride Around the World…

January 25, 2016

Dari Prudhoe Bay ke Ushuaia

Jeffrey Polnaja mendaulat diri sebagai orang Indonesia pertama yang berhasil menjelajah benua Amerika seorang diri dari titik paling utara sampai titik palaing selatan.

 

P6151599AAZ

 

Perjalanan dimulai dari Deadhorse, Prudhoe Bay, Alaska, kota paling utara di benua tersebut hingga finish di  Ushuaia, kota paling selatan di muka bumi yang berada di provinsi Tierra del Fuego, Argentina. Penjelajahan itu dilakukan Jeffrey selama dua tahun.

Dead Horse, Prudhoe Bay, Alaska

Dead Horse, Prudhoe Bay, Alaska

Pria yang akrab disapa Kang JJ ini menyusuri Rute Nasional 3 Argentina sejauh lebih dari 3.000 kilometer dari ibu kota Buenos Aires menuju Ushuaia, kota paling selatan di muka bumi.

 

Kang JJ mengaku tidak menemui masalah berarti selama melalui jalur di pesisir timur benua Amerika tersebut. Cuaca musim panas di belahan selatan bumi diakui telah memberikan keberuntungan tersendiri. Padahal jarak Ushuaia dengan ujung utara Kutub Selatan hanya sekitar 1.000 kilometer.

 

Saat ini siapapun dapat pergi ke kutub utara asal sanggup membayar biaya perjalanan yang mencapai 5.000 dolar AS. Banyak agen perjalanan menawarkan perjalanan wisata ke benua dingin tersebut.

Bahia Lapataia, Ushuaia, Tierra del Fuego, Argentina

Bahia Lapataia, Ushuaia, Tierra del Fuego, Argentina

“Ya, di Utara sekarang sedang musim dingin, namun di Selatan sebaliknya. Tapi bukan berarti suhu udara di Ushuaia sehangat Indonesia. Karena dekat dengan Antartika, suhu di sini sangat rendah,” jelas penunggang BMW R 1150 GS bernomor polisi B 5010 JP ini.

 

Praktis Jeffrey hanya terkendala urusan hujan dan angin kencang. Curah hujan yang tinggi terkadang sulit dihindari ketika dirinya berada di tengah jalan. Begitupun dengan angin kencang yang tak sedikit membuat goyang tunggangannya. “Melawan dingin dan mengantisipasi pengaruh angin menjadi bagian yang harus mampu diatasi sepanjang perjalanan, terutama di tengah padang gurun.”

 

Jeffrey mencatat telah mengoleksi jarak tempuh tak kurang dari 200 ribu kilometer dari Deadhorse di utara Benua Amerika hingga Ushuaia di selatan Benua Amerika melalui Interior (sebutan jalur bagian tengah Kanada), Amerika Serikat, dan Meksiko.

 

Hampir semua negara di Amerika Tengah dan Selatan disinggahi selama penjelajahan bermisi Ride for Peace (RFP) ini, termasuk menjelajah Brasil selama hampir tiga bulan.

“Sudah hampir sebulan saya berada di Argentina hingga sampai di Ushuaia. Sebelumnya saya menjelajah banyak kota dan provinsi di Brasil. Kita tahu Brasil sangat luas. Saya bertualang dari Barat ke Timur dan kembali ke Barat Brasil,” ungkap pria yang sudah mencicipi Paraguay, Uruguay, Peru, dan Chili ini.

November 13, 2015

Quote for the Day

Quote for the Day, Quote for Today, Today Quote

Never Give Up ! Maybe the Glories only a few step in front of you…

Blusukan ke Favela, daerah rawan kejahatan di Brazil

Anda mau ke favela ? Sebaiknya jangan, disana sangat berbahaya;” saran Wagner dan Rogerio, riders setempat yang saat itu menemani saya. Saya tahu mereka tidak bermaksud menakut-nakuti, sudah banyak cerita tentang mereka yang mencoba masuk favela, pada saat keluar sudah tidak bawa apa2 karena semua barangnya dijarah. Terutama bagi mereka yang nekat masuk sendirian, tanpa ditemani warga lokal yang fasih berbahasa Portugis slank Rio dan sudah dikenal warga setempat.

IMG_5393AZ

 

Selain terkenal dengan karnaval dan patung Christ de Redeem yang bertengger di puncak bukit, Rio de Janeiro juga dikenal dengan favela nya. Favela adalah daerah kumuh yang dibangun secara illegal di daerah perbukitan. Favela sangat identik dengan kejahatan, sarang kriminal dan tempat beroperasinya geng-geng pengedar narkotika. Bukan rahasia lagi bila polisi Brazil enggan memasuki wilayah favela, jika terpaksa masukpun mereka pasti berkelompok dan lengkap bersenjata berat.

 

G0070775AZ

 

Terdorong rasa ingin tahu, saya riding memasuki favela Vidigal, favela Rocinha (favela terbesar, terkumuh dan terseram di Brazil). Memasuki kawasan favela terasa sekali kerawanannya, tidak heran bila kawan2 rider setempat enggan menemani, walau dengan alasan medan jalan yang sempit dan berliku di perbukitan curam. Memang betul demikianlah kedaan jalannya. Di tepi jalan banyak pemuda berbadan kekar bergerombol, musik berdentum keras di beberapa sudut.

 

Ditemani ‘Silver Line’ menyusuri jalan terjal di bukit-bukit dengan rumah kotak kecil-kecil tersebut, dari gang sempit dan sesak bau alkohol menebar. Sangat kontras dengan bukit di sebelahnya, ditutup ketebalan hutan tropis dengan latar belakang birunya laut Atlantik, lukisan indah yang dipersembahkan alam.

 

IMG_5390AZ

 

 

Saat menuju keluar beberapa polisi menghadang, mereka bersenjata lengkap dan menggunakan rompi anti peluru. Anda berasal dari negara mana ?”, tanya seorang diantara mereka. ‘Indonesia !”, tegas saya. Apakah anda tahu anda berada dimana ? This area is not recommended for foreigner”, sambung kawannya. “Ooo gitu”, jawab saya sambil berusaha keras pasang muka lugu. Setelah mengajukan beberapa pertanyaan, akhirnya mereka memperbolehkan saya pergi. Tanpa mau kehilangan kesempatan, saya minta ijin untuk bisa photo bersama mereka. Kapan lagi bisa photo bareng polisi di favela, iya nggak !.

 

IMG_5387AZ

 

 

Bahagia sekali bisa mengalami sendiri semua itu. Saat ini ada beberapa tour operator yang menjual wisata ke favela, tentunya dengan ditemani pemandu wisata khusus yang sudah berpengalaman dan memiliki koneksi tertentu dengan orang-orang yang tinggal di dalam favela. Tentunya suasana tour yang sudah direkayasa tersebut tidak akan seseru tour sendiri tanpa ditemani siapapun.

 

Setibanya di penginapan saya bercerita pada pemilik hostel. Anda betul-betul beruntung”, katanya. Pertama bisa keluar favela dengan selamat, tanpa kehilangan sesuatupun. Kedua bisa berphoto bersama polisi, yang biasanya tidak pernah mau diphoto saat masih menggunakan seragam. Saya hanya dapat tersenyum sambil menengadah keatas, mengucapkan puji dan syukur kehadirat Sang Pencipta.

 

(Rio de Janeiro, 09/11/2-14)

Pelat B 5010 JP Menjadi Koleksi Galeri Sign Post Forest Kanada

WATSON LAKE, YUKON, KANADA – Lega rasanya ketika pelat nomor B 5010 JP yang digunakan Ride For Peace menjadi salah satu koleksi dan memorabilia di sebuah tempat paling mengesankan untuk para petualang di Sign Post Forest di Watson Lake, Yukon, Kanada. Bahkan mendapat keistimewaan, di mana pelat nomor polisi sepeda motor BMW R 1150 GS yang diberikan kepada pihak Sign Post Forest ditempatkan dalam galeri khusus.

 

Menurut pengakuan Sonja Rena wakil dari Sign Post Forest, Jeffrey menjadi orang Indonesia pertama, dan satu-satunya dari Asia, yang mampu berkendara dengan sepeda motor asal Tanah Air hingga ke Sign Post Forest di Watson Lake.

 

Sign Post Forest Gate

Sign Post Forest Gate

 

Pria asal Bandung, Jawa Barat ini memasuki wilayah Yukon setelah berkendara sejauh 13.000 km dari Deadhorse, Prudhoe Bay, sebuah titik akhir Dalton Highway yang merupakan ujung jalan paling utara di Benua Amerika, pekan lalu. Sign Post Forest adalah salah satu ikon dunia penjelajahan di Kanada dan tujuan penting petualang manca-negara.

 

“Tempat ini sangat terkenal di seluruh dunia. Di sini kita bisa melihat berbagai tanda petunjuk jalan dan nomor-nomor tanda kendaraan yang unik dari seluruh penjuru dunia. Dan, saya senang telah menempatkan nopol kendaraan asal Indonesia untuk bergabung bersama ribuan tanda dari seluruh dunia,” terang pria yang akrab disapa JJ ini.

 

P6260387AZ

Pelat nomor “B 5010 JP” (Kanan Bawah) Bersama Pelat Nomor Mancanegara Lainnya…

 

JJ menambahkan bahwa nopol kendaraan asal Indonesia tidak berada di luar seperti ratusan ribu pelat-pelat lain. Pelat “B 5010 JP” justru ditempatkan di dalam sebuah ruangan khusus, di mana hanya tanda-tanda tertentu yang punya nilai sejarah tersendiri yang bisa mengisi galeri di dalamnya. Diantaranya terdapat pelat nomor dari kendaraan yang pernah dimiliki artis dan tokoh terkenal dunia.

 

“Sebagai penghargaan dan apresiasi kami terhadap perjalanan Ride For Peace (RFP) yang kami katagorikan langka, unik dan penuh tantangan, maka kami perlu menempatkan nomor kendaraan RFP, B 5010 JP di tempat khusus di dalam Galeri Sign Post Forest,” jelas Sonja.

 

P6260380AZ

Sonja Sedang Memasang Pelat B 5010 JP

 

Lebih jauh Sonja mengatakan Jeffrey telah membawa RFP ke Sign Post Forest sebagai sejarah tersendiri. Dia mengakui bahwa nomor kendaraan Indonesia merupakan satu-satunya dari Asia yang langsung dikendarai sampai Watson Lake. “Biasanya hal itu hanya dilakukan warga Amerika saja, sedangkan pengunjung dari Asia datang ke sini menggunakan pesawat sambil membawa nomor kendaraannya atau petunjuk jalan dari negaranya,” terang wanita itu.

 

Dengan ditempatkannya nomor kendaraan asal Indonesia di Galeri Sign Post Forest maka dunia akan bisa lebih mengenal Tanah Air. “Pelat nomor ‘B 5010 JP’ akan dilihat orang-orang dari mancanegara yang mengunjungi Sign Post Forest, karena setiap pengunjung yang ke sini pasti menyempatkan diri masuk ke galeri,” jelas Jeffrey.

 

 

Sign Post Forest

Sign Post Forest

 

Tentang Sign Post Forest

Sign Post Forest merupakan salah satu tempat paling menarik bagi wisatawan manca negara yang berada di kawasan Watson Lake, Yukon, Kanada. Tempat ini menjadi menarik karena terdapat sebuah daerah, di mana begitu banyak menempel tanda nomor kendaraan dan petujuk arah dari berbagai dunia hingga membentuk bagaikan bunga-bunga di tengah hutan.

 

Sign Post Forest dimulai pada 1942 oleh terknisi serdadu AS Carl K. Lindley. Saat itu dia rindu terhadap kampung halaman karena harus bekerja membangun jalan Alaska Highway semasa Perang Dunia II. Jalan tersebut dibangun untuk menghubungkan Alaska dengan negara bagian ke-48 AS. Jalur yang dimulai dari titik “0” di Dawson Creek, British Columbia itu berakhir di Delta Junction, Alaska.

 

Lindley mengawali menempel pelat “Danville, Illinois, 2835 miles” di daerah tersebut hingga kemudian diikuti banyak orang. Pada 20 Juli 1990 pasangan Olen dan Anita Walker menempatkan sebuah pelat Ohio sebagai tanda ke 10.000.  Lindley dan istrinya bahkan pernah mengunjugi Sign Post Forest pada 1992, 50 tahun setelah usai Perang Dunia II. ###

 

 

 

 

 

 

 

June 06, 2013

MENUJU ALASKA

VANCOUVER, KANADA — Jeffrey Polnaja akan melanjutkan penjelajahan keliling dunia dunia seorang diri dengan sepeda motor setelah singgah beberapa bulan di Kanada. Dalam sambutan di kantor Konsulat Jenderal Republik Indonesia, Vancouver, Sabtu (1/6) pekan lalu, pria asal Bandung, ini mengatakan bakal memulai kembali perjalanan menantangnya dari British Columbia, Kanada menuju Alaska, AS.

 

“Akhirnya saya harus meninggalkan Kanada karena masih banyak negara-negara lain yang harus saya kunjungi dalam misi Ride for Peace (RFP) kedua ini. Di sini saya telah bertemu banyak orang dalam berbagai forum, sekaligus mengenalkan Indonesia kepada mereka. Kita harus bangga pada Indonesia seperti mereka yang antusias mendengar segala cerita saya tentang keragaman Tanah Air,” kata Jeffrey yang kembali akan menjinakkan BMW R 1150 GS untuk perjalanannya.

 

Pada acara pelepasan yang dihadiri lebih dari 50 warga Indonesia dan Kanada tersebut, Jeffrey menyampaikan sambutan yang antara lain menekankan kembali tekadnya untuk terus menggaungkan misi perdamaian dan persaudaraan antar-bangsa. Jeffrey berharap penjelajahannya mengelilingi dunia akan berakhir di Tanah Air pada tahun 2015 atau 2016.

 

P6021144AZZ

 

Sementara itu, Konsul Jenderal RI Bambang Hiendrasto juga menyatakan bangga kepada Jeffrey. Dia menilai Jeffrey sebagai duta bangsa yang telah turut serta membangun persahabatan dan persaudaraan dengan bangsa lain, serta mengangkat nama baik Indonesia di luar negeri, termasuk Kanada, negara ke-77 yang ia jelajahi.

 

Bahkan pengendara sepeda motor besar yang juga fotografer profesional Kanada, Chris Cameron, ikut memberikan sambutan dalam pelepasan perjalanan Jeffrey. Mewakili komunitas-komunitas sepeda motor besar serta di Kanada, Cameron menyampaikan ucapan terimakasih kepada Jeffrey.

 

Menurutnya, Jeffrey telah membuka mata pemuda-pemuda Kanada bahwa Indonesia memiliki penjelajah dunia yang tangguh. “Jeffrey Polnaja adalah duta pesahabatan yang mengesankan,” katanya. “Dia sangat berani,” lanjutnya.

 

 

Bersama 11 warga Kanada dan puluhan diaspora Indonesia di KJRI Vancouver, Cameron pun mengawal pria yang akrab disapa Kang JJ ini hingga kota Whistler, British Columbia sebelum bersepeda motor seorang diri ke arah utara Kanada dan Alaska.

 

Tepat pukul 11.40 di hari Sabtu waktu setempat, kibaran bendera start menandai perginya Jeffrey melintas Kanada. Menunggang sepeda motor berplat nomor polisi Jakarta, B 5010 JP, dia melanjutkan penjelajahannya dengan kawalan para sahabat barunya di Kanada yang mengendarai delapan sepeda motor besar hingga Whistler, salah satu dari 25 tempat bermain ski terbaik di dunia.

 

P6021153AZZ

 

 

Dari Whistler, Kang JJ rencananya akan menempuh perjalanan puluhan ribu kilometer seorang diri menuju Prudhoe Bay, titik akhir jalan Trans Alaska di kawasan paling utara benua Amerika melewati garis Artik. Jeffrey juga akan melewati Yukon, North Territory Alberta (Kanada) dan Deadhorse, Fairbank, Anchorage (Amerika Serikat). Selanjutnya, ia akan terus menjelajah ke arah pantai timur Kanada, kemudian ke arah selatan – Amerika Serikat, Amerika Tengah, Amerika Selatan sampai di Tierra del Fuego, kawasan paling selatan dari benua Amerika, melewati garis Antartik.

 

Pelepasan Jeffrey ini sekaligus puncak selama pengembaraannya Kanada. Sebelumnya, dalam masa singgahnya itu Jeffrey telah mengunjungi berbagai wilayah di Provinsi British Columbia, termasuk mengelilingi Vancouver Island ditemani pengendara lokal.

 

Selama menjelajah, mereka tidak hanya melewati dan singgah di kota-kota besar dan kecil, ataupun menyusuri pantai yang indah. Tetapi juga “blusukan” ke tempat permukiman masyarakat pribumi Kanada, First Nations, di daerah terpencil di atas pegunungan. Di tempat inipun Kang JJ diterima dengan tangan terbuka dan merasakan persaudaraan serta persahabatan sesuai misi perdamaian RFP.

 

Cerita menarik bahkan dialami manakala Kang JJ mengenal seorang dari suku Indian di Kanada, Bucky John, di sebuah tempat bernama Marbel Canyon, Blue Ridge Lake. Untuk diketahui, tak banyak orang asing bisa dekat dengan suku-suku Indian karena mereka sangat tertutup dengan dunia luar.

 

Namun, sekali lagi, Kang JJ mampu memberi keyakinan bahwa dirinya bisa menjadi salah satu sahabat bagi suku Indian. Dari perkenalannya itulah Kang JJ mendapatkan sebuah kenang-kenangan unik berupa topi khas Indian berbulu elang (war bonnet).

 

 

Cidera mata itu bukanlah sekadar buah tangan. Ini merupakan simbol yang memiliki makna spiritual tinggi bagi suku Indian yang percaya bahwa elang merupakan simbol kepercayaan, penghargaan, kekuatan, kebijaksanaan, dan kebebasan. Bagi suku Indian, mendapatkan bulu-bulu elang yang rontok dianggap sebagai pemberian dari Sang Pencipta.

 

IMG_0559AZZ

 

Rupanya Kang JJ juga bisa mengejutkan Bucky ketika dirinya mampu menunggang kuda dengan baik tatkala mereka bersama-sama memburu kuda liar di kawasan tersebut. “Bucky heran karena saya ternyata tak hanya bisa menunggang kuda besi. Katanya, orang-orang Indonesia juga pintar naik kuda hidup,” kenang Jeffrey yang pernah menjuarai kompetisi Loncat Rintangan Berkuda di tanah air pada tahun 1989.

 

Hebatnya, untuk mendukung perjalanan menantangnya tersebut Kang JJ tetap mempercayakan kelengkapan buatan Indonesia. Menurutnya, peralatan penjelajahan ekstrim buatan produsen perlengkapan petualangan asal Bandung, Jawa Barat, Eiger Adventure, tidak kalah kualitas dengan buatan luar negeri.

 

“Saya sering ditanya tentang asal merek pakaian berkendara yang saya gunakan. Ketika saya bilang, ‘Ini buatan Indonesia, mereka hampir tak percaya.’ Dari situ mereka juga tahu bawa produk-produk Indonesia punya kualitas yang bagus,” ucap Kang JJ. ###

 

Tentang Ride for Peace

Sesungguhnya Jeffrey Polnaja telah berada di Eropa, tepatnya di Paris, Perancis sejak 27 April tahun silam guna memulai perjalanan keliling dunia. Dalam rencana awal, Jeffrey seharusnya telah memulai penjelajahan dengan sepeda motornya sejak 13 Mei lalu dari kota Paris, Perancis. Namun karena mengalami masalah kehilangan sepeda motor di Amsterdam, Belanda pada 3 Mei 2012, misi perjalanan terhambat. Jeffrey bahkan terpaksa kembali ke Jakarta guna mengurus ulang seluruh dokumen perjalanan serta menyiapkan sepeda motor pengganti.

 

Untuk diketahui, perjalanan Jeffrey kali ini merupakan penjelajahan keliling dunia seorang diri yang kedua dengan sepeda motor. Sebelumnya, pada tahun 2006 hingga 2008, Jeffrey telah menaklukkan 72 negara mulai dari Asia, Timur Tengah, Afrika, dan Eropa.

 

Pada kesempatan kedua ini, Jeffrey mengemban misi “Ride for Peace – Solo Riding Exploring Five Continents on Two Wheels.” Pelepasan Jeffrey telah dilakukan di Jakarta pada 23 April 2012.

 

Rencananya, Jeffrey akan berkelana sejauh 220.000 kilometer melintasi beberapa negara di Eropa, Amerika Utara, Amerika Tengah, Amerika Selatan dan Australia. Tak kurang dari 30 negara akan disinggahi, mulai dari Perancis, Belgia, Belanda, Jerman, Skandinavia, Polandia, Rusia, Korea Selatan, Jepang, Kanada, Amerika Serikat, Meksiko, Kuba, Kolombia, Nikaragua, Bolivia, Brasil, Argentina, Peru, Selandia Baru, Australia, dan Timor Leste. Jeffrey direncanakan tiba kembali di Jakarta pada tahun 2015. ###

 

Ride For Peace Memukau Ratusan Penjelajah Dunia di Kanada

VANCOUVER, KANADA —  Penjelajah dunia Jeffrey Polnaja telah menjadi pembicara di depan sekitar 100 penjelajah dunia asal Kanada, Selasa (23/4) lalu. Dalam acara bertajuk “The Horizons Unlimited Adventure Evening” yang berlangsung di Holeshot Motorsport di British Columbia, Langley, Kanada, itu Jeffrey mengungkapkan kisah perjalanan Ride for Peace (RFP) yang tengah dijalaninya saat ini.

 

Pada kesempatan tersebut Jeffrey menjadi satu-satunya petualang motor dari Asia yang pernah tampil di acara tersebut. “‘It’s good to have an end to journey toward, but it is the journey that matters in the end,’” kata pria yang akrab disapa Kang JJ, itu menggambarkan semangat dan antusiasme 100 penjelajah motor besar Kanada yang memenuhi ruangan Holeshot Motorsport.

 

IMG_9486AZ

 

“Mereka berkumpul untuk mendengarkan presentasi Ride For Peace yang saat ini  sedang singgah di Vancouver setelah menjelajah Eropa dan sebagian Asia beberapa bulan lalu. Rencananya, dari sini saya akan melanjutkan perjalanan menuju Amerika Serikat dan menembus Amerika Selatan. Namun cuaca di Kanada masih belum menentu, dan salju masih tebal menutup sebagian besar rute yang akan dilalui nanti,” lanjut Jeffrey.

 

Jeffrey telah menjadi pusat perhatian dan bintang pada acara yang dimulai dari sore hingga malam hari itu. Dalam acara tersebut, Kang JJ mengungkapkan kisah penjelajahan RFP dengan sepeda motor seorang diri berkeliling dunia.

 

Sejauh ini Kang JJ telah mengunjungi 77 negara dan akan terus bertambah. Kisah-kisah penjelajahan yang dramatis ini berhasil memukau dan memikat perhatian hadirin yang hampir seluruhnya pernah merasakan pengalaman menjelajah negeri orang dengan sepeda motor.

 

“Mereka terpaku di tempat duduknya sepanjang presentasi dan tanya jawab yang dilakukan dengan bantuan sarana presentasi visual/photo dan film pendek. Emosi para bikers penjelajah terbawa, mereka seakan merasakan pahit getir perjalanannya.”

 

Ada kalanya mereka terperangah, ketika mendengar cerita menjelajahi medan off road di Siberia sejauh 1.450 kilometer dalam sehari dan upaya ‘survivel’ di berbagai kesulitan.

 

Saat Jeffrey menceritakan pengalamannya beberapa tahun silam ketika dirinya terancam seekor beruang di hutan di Bhutan. Ada yang tertawa lucu, walau banyak juga yang terheran-heran mendengar Jeffrey bisa selamat dari amukan beruang.

 

Namun para bikers juga merasa sedih manakala Jeffrey harus kehilangan sepeda motor BMW R 1150 GS Adventure ketika sedang diparkir di depan hotel di dekat kantor polisi di Amsterdam, Belanda, Mei 2012. Sepeda motor tesebut sangat besar artinya dan sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan bagi dirinya, namun Jeffrey tak bisa terus menyesali kehilangan BMW tersebut pada misi keliling dunia keduanya ini.

 

Ketika mendengar cerita motor dicuri di Amsterdam, semua sedih. Mereka juga terperanjat ketika mengetahui musibah saat ditabrak mobil di tengah gurun Baluchistan, hingga motor tersebut rusak dan terseok-seok jalannya. Musibah saat diserempet truk tronton di Kazakhstan melengkapi suka-duka perjalanan panjangnya.

 

Untuk diketahui, kehadiran Kang JJ dalam acara tersebut memenuhi undangan dari Grant dan Susan Johnson, pendiri organisasi jelajah dunia “Horizons Unlimited.” Organisasi bagi para penjelajah dunia ini beranggotakan ratusan ribu petualang bermotor dari berbagai penjuru dunia.

 

Dalam sambutannya, Grant Johnson mengungkapkan kegembiraannya atas kehadiran Kang JJ. Bagi keduanya, pertemuan itu merupakan yang pertama setelah selama tujuh tahun berkomunikasi melalui surel.

 

Horizons Unlimited yang dibentuk sejak tahun 1997 bertujuan untuk menginspirasi, memberi informasi dan memperkuat koneksi antar penjelajah bermotor di seluruh dunia. Setiap tahun mereka mengadakan beberapa pertemuan rutin di berbagai negara. Grant Johnson juga menyatakan sangat ingin menjelajah Indonesia dengan sepeda motor. Dia sendiri mengaku pernah mengunjungi Indonesia, namun dalam kesempatan liburan dan aktifitas menyelam di Bunaken dan Bali.

 

Selain bercerita pengalaman, Jeffrey juga sempat memberikan kejutan kepada para bikers dengan menyuguhkan sajian makanan khas Indonesia, lemper. Panganan dari ketan berisi daging itu merupakan sumbangan Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Vancouver.

 

“Ini lucu. Mungkin karena senang dengan rasanya, ada bikers yang diam-diam mengantongi lima lemper sekaligus. Malah ada yang mengira lemper dimakan berikut daun pisang pembungkusnya,” ujar Jeffrey diselingi tawa. “Untung Grant Johnson memberi pengarahan agar daun pisang (pembungkus) tidak ikut dimakan.”

 

Bagi Jeffrey berbicara di tengah publik seperti di kesempatan tersebut memiliki arti tersendiri bagi Indonesia. Melalui kesempatan itu dia bisa ikut memperkenalkan pariwisata Indonesia di manca negara.

 

“Ketika diperlihatkan peta Indonesia, mereka jadi ingin tahu banyaknya pulau di tanah air kita, dan ingin lebih mengetahui segala keindahan alam yang tidak bisa ditemukan di negerinya.”

Salam Jelajah !!!

 

P3270507AZ

 Bersama Susan dan Grant Johnson dari Horizons Unlimited Adventure

 

IMG_9481AZ

 

IMG_9496AZ

 

IMG_9440AZ

 

Jeffrey Polnaja in Afghanistan, R1150GS, 2006

“Nobody encouraged me when I decided to enter Afghanistan, the region where the conflict is still going on. Everybody tried to change my mind. However, as my adventurous spirit whipped up and with the enthusiasm and strong will, Ride For Peace had to visit Afghanistan.

 

Web_DSCN6463

 

 

The Afghan visa application process in Afghanistan’s mission in New Delhi was not as complicated as I thought before. It only took 2 days to get the visa. Starting from New Delhi, I passed through Wagha Border to cities in Pakistan: Lahore and Islamabad. After several days relaxing in Islamabad, the journey continued to Peshawar, last town in Pakistan before reaching Khyber Pass, the way to Pakistan-Afghanistan border in Torkham. This legendary and famous pass has been used in centuries. According to the story, this pass was used by Alexander the Great to enter southern Asia from central Asia and Europe.

 

Web_DSCN6477

 

 

Khyber Pass is known as an unsafe area for foreigners. The area is controlled by Warlords who have their own troops and rules. To pass through this area, one should be careful since the condition of nature with bare hills and the sinuous and very quiet road. Nobody can guarantee your safety in this area. As a foreigner, I need to apply for the permit to enter the area in Home Secretary of NWFP (North West Frontier Province) Office. The officers were very helpful, however they could not hide their surprise at my intention to pass the area on motorcycle. Then, with the permit I had to pass the process in National Security of Khyber Rifles. Finally, escorted by a Khyber Rifle troop, I rode passing through Khyber Pass heading to the border of Pakistan-Afghan in Torkham.

 

Web_DSCN6489

 

 

I arrived safely in Torkham in the afternoon. The border troops were amazed with my motorcycle and made them more surprised when they knew my intention to go to Jalalabad and Kabul in Afghanistan. As from the beginning, they suggested me to be better not to enter Afghanistan. Knowing my strong intention to go to Afghanistan, they promised to have a celebration party when I could return safely in Torkham. They proved their promise when I came back 1 week later in Torkham. They applauded me and welcomed me back to Pakistan with ‘chai’ (tea) and ‘chapatti’ (bread). Later on I knew that they made my journey as a bet since they had experiences that many people who crossed the border, didn’t return back safely.

 

Web_DSCN6196

 

Web_DSCN6450

 

Web_DSCN6479

 

Experiencing once is much better than hearing hundred times. The heat of the dessert, the freeze of snowy mountains become good friends and give big spirit to explore this planet more and more…. Happy adventure & have a good trail…”

 

(This article is my first post in Horizon Unlimited Traveller Community, published in 2006)

 

 

 

DAFTAR NEGARA BEBAS VISA BAGI PEMEGANG PASSPORT INDONESIA

DAFTAR NEGARA-NEGARA BEBAS VISA BAGI WARGA NEGARA INDONESIA

 

A S I A :

 

1.  Brunei                   :  BEBAS VISA dengan masa berlaku 14 hari.

2.  Cambodia           :  BEBAS VISA dengan masa berlaku 30 hari.

3.  China                    :  Visa on Arrival (VOA) hanya berlaku untuk perjalanan ke Propinsi Hainan dan di organisir oleh agen perjalanan.

4.  Hong Kong         :  BEBAS VISA dengan masa berlaku 30 hari.

5.  India                     :  VOA  – US $60.00 untuk masa laku 60 hari.

6.  Iran                       :  VOA – € 55.00 untuk masa berlaku 2 minggu dan masuk melalui 6 pintu perbatasan saja.

7.  Jordan                  :  VOA  – US $30.00 untuk masa berlaku 1 bulan.

8.  Kyrgyzstan        :  VOA  – US $ 30.00 khusus untuk negara-negara yang tidak memiliki perwakilan Kyrgystan (termasuk Indonesia).

9.  Laos                       :  BEBAS VISA untuk masa berlaku 30 hari.

10.  Macao                :  BEBAS VISA untuk masa berlaku 30 hari.

11.  Malaysia            :  BEBAS VISA dengan masa berlaku 30 hari.

12.  Maldives           :  BEBAS VISA dengan masa berlaku 30 hari.

13.  Nepal                  :  VOA untuk masa laku 150 hari dalam satu tahun fiscal.

14.  Oman                 :  VOA  – $ 50.00 untuk masa berlaku 30 hari.

15.  Pakistan           :  VOA hanya untuk keperluan bisnis saja.

16.  Philippines     :  BEBAS VISA dengan masa berlaku 21 hari.

17.  Singapore        :  BEBAS VISA dengan masa berlaku 30 hari.

18.  Sri Lanka         :  VOA  – US $27.00 untuk masa berlaku 90 hari.

19.  Taiwan              :  BEBAS VISA dengan masa berlaku selama 90 hari dengan kondisi memiliki residence permit dari negara-negara: Inggris, AS, Jepang,  Australia, New Zealand dan Schengen.

20.  Tajikistan        :  VOA  – US $ 45.00 untuk masa berlaku 30 hari. Visa ini  bisa diperoleh di bandara Dushanbe dengan menunjukkan surat undangan (dari hotel atau sponsor lokal).

21.  Thailand            :  BEBAS VISA dengan masa berlaku 30 hari.

22.  Timor Leste     :  VOA  – US $30.00 untuk masa berlaku 30 hari.

23.  Vietnam             :  BEBAS VISA dengan masa berlaku 30 hari.

 

 

O C E A N I A :

 

1.  Cook Island       :  BEBAS VISA dengan masa berlaku 31 hari.

2.  Fiji                        :  Visa on Arrival (VOA)  – FJ$ 96.00 untuk masa berlaku 90

hari, sekali masuk dalam satu tahun fiscal.

3.  Micronesia        :  BEBAS VISA dengan masa berlaku 30 hari.

4.  Niue                      :  VOA untuk masa berlaku selama 30 hari.

5.  Palau                    :  BEBAS VISA selama 3 bulan pertama dan akan dikenakan biaya bila dipanjangan.

6.  Papua New Guinea   :  VOA

7.  Samoa                :  BEBAS VISA dengan masa berlaku 30 hari.

8.  Tuvalu                :  BEBAS VISA dengan masa berlaku 30 hari s/d 90 hari.

 

 

A F R I K A :

 

1.  Cape Verde        : Visa on Arrival (VOA)  – € 40.00

2.  Comoros            :  VOA  – US$ 100.00 untuk masa berlaku 90 hari.

3.  Ethiopia             :  VOA  – US$ 20.00 untuk masa berlaku 30 hari.

4.  Kenya                  :  VOA  – US$ 100.00 untuk masa berlaku 90 hari.

5.  Madagascar     :  VOA  – US$ 15.00 untuk masa berlaku 90 hari.

6.  Morocco            :  BEBAS VISA dengan masa berlaku 90 hari.

7.  Mozambique    :  VOA untuk masa berlaku 30 hari.

8.  Seychelles         :  BEBAS VISA dengan masa berlaku 30 hari.

9.  Tanzania           :  VOA  – US 50.00 untuk masa berlaku 90 hari.

10.  Zimbabwe       :  VOA  – US 30.00 untuk sekali kedatangan

11.  Zambia              :  VOA untuk masa berlaku 30 hari

 

A M E R I K A  :

 

1.  Bermuda            :  BEBAS VISA dengan masa berlaku 180 hari.

2.  Chile                     :  BEBAS VISA dengan masa berlaku 90 hari.

3.  Costa Rica         :  BEBAS VISA selama 30 hari bagi yang pernah ke USA, Canada dan Schengen.(ada stamp di Passport).

4.  Colombia           :  BEBAS VISA dengan masa berlaku 90 hari.

5.  Cuba                     :  BEBAS VISA selama 30 hari dengan syarat memiliki tourist card yang dibeli sebelum berangkat.

6.  Ecuador             :  BEBAS VISA dengan masa berlaku 90 hari.

7.  Haiti                     :  BEBAS VISA dengan masa berlaku 90 hari.

8.  Jamaica             :  BEBAS VISA selama 180 hari, khusus bagi WNI yang memiliki residency permit di Amerika Serikat saja.

9.  Mexico                 :  BEBAS VISA bila sudah memiliki Visa Amerika Serikat

10.  Peru                    :  BEBAS VISA dengan masa berlaku 180 hari.

11.  Saint Vincent  :  BEBAS VISA dengan masa berlaku 30 hari.

 

E R O P A  :

 

1.  Albania               :  BEBAS VISA khusus bagi pemegang Schengen Visa.

2.  Andora               :  BEBAS VISA dengan masa berlaku 7 hari.

3.  Georgia              :  BEBAS VISA  hanya untuk pemegang Residence Permit di USA, Negara Schengen, Korea, Qatar, Sultanate of Oman, Bahrain dan Kuwait dan berlaku selama 360 hari.

5.  Turkey                :  VOA  – US$ 25.00 untuk masa berlaku 30 hari

6.  Serbia                 :  BEBAS VISA khusus pemegang Passport Diplomatik.

 

 

 

KETERANGAN :

  • Visa on Arrival (VOA) : kita dapat langsung datang ke negara tujuan, anda akan memperoleh visa setelah membayar sejumlah biaya pada counter visa di pelabuhan udara atau titik embarkasi yang sudah ditentukan.
  • Bebas Visa  : anda dapat langsung datang ke negara tersebut dan akan mendapatkan visa di counter imigrasi tanpa harus membayar biaya visa.

 

Yang perlu diperhatikan :

  • Masa berlaku Passport minimum 6 bulan dari tanggal kedatangan anda.
  • Biasakan membawa pasphoto 3×4 atau 4×6, terkadang dibutuhkan.
  • Data diatas dikumpulkan berdasarkan pengalaman pribadi maupun dari berbagai sumber, bisa saja data tersebut bertambah banyak atau malah berkurang,  semua tergantung dinamisasi situasi politik dunia serta hubungan bilateral antar negara. Ada baiknya sebelum bepergian anda mengecek ulang.

Selamat merencanakan perjalanan anda,

 

SALAM JELAJAH !!!

 

Posting 13/02/2013

RIDING TIPS : Melintas Batas Negara dengan Kendaraan Bermotor

Jeffrey-Polnaja_AZPenjelajah dunia asal Indonesia, Jeffrey Polnaja, mengaku salut dengan semakin banyaknya pecinta sepeda motor di Tanah Air yang ingin mengikuti jejak dirinya berpetualang keliling dunia.

 

“Saya melihat saat ini mulai banyak rider Indonesia yang melakukan perjalanan lintas negara, meski pun baru sebatas mengunjungi negara-negara tetangga,” kata Jeffrey. “Ini sebuah gerakan positif. Apalagi bila misinya diisi dengan kegiatan mempromosikan keragaman Indonesia di seluruh dunia. Jadi, bukan sebagai cara untuk gagah-gagahan belaka,” lanjut pria yang kini tengah berada di Vancouver, Kanada untuk misi RFP kedua ini.

 

Jeffrey juga menyatakan bahwa menjelajahi dunia dengan kendaraan bermotor, apalagi seorang diri seperti dirinya, bukanlah pekerjaan yang mudah. Selain dibutuhkan stamina prima dan kesiapan mental kuat, seorang penjelajah dunia dituntut mampu menyiapkan kelengkapan dokumen yang berlaku. Dokumen tentu tak hanya persuratan yang wajib dilengkapi oleh setiap individu. Faktor yang juga sangat penting adalah menyiapkan dokumen kendaraan agar bisa melintasi batas negara.

 

“Pertanyaan mendasar yang kerap dilemparkan kepada saya dari para rider yang berniat berkeliling dunia adalah tentang surat-surat izin kendaraan. Mengurus surat kendaraan tidak sulit. Terpenting, yaitu memiliki Carnet de Passage (CPD) untuk kendaraan yang akan digunakan keliling dunia,” ujar pria yang akrab disapa Kang JJ ini.

 

Jeffrey juga menjelaskan bahwa setiap orang yang ingin pergi ke luar negeri tentu harus memegang passport yang minimal masih berlaku hingga enam bulan ke depan. Banyak negara juga membutuhkan visa sebagai izin masuk, sehingga surat ini juga wajib dipenuhi sebelum keberangkatan. “Kalau hanya mengunjungi negara-negara di Asia Tenggara kita bisa mendapat Visa on Arrival jadi tidak begitu repot.”

 

Sementara itu, untuk mengurus CPD, Jeffrey menjelaskan, dokumen ini harus diurus di kantor Ikatan Motor Indonesia (IMI) Pusat yang berada di Jakarta. “CPD sangat penting agar kendaraan asal Indonesia bisa diterima masuk di negara-negara lain. CPD sepeti sebuah surat jaminan bahwa kendaraan yang akan kita masukkan ke sebuah negara bukan untuk dijual.”

 

“Karena itu, ketika mengurus dokumen CPD pemilik kendaraan akan dikenakan sejumlah biaya oleh IMI sebagai uang jaminan,” terang Jeffrey. Dilanjutkan, setiap penjelajah dunia dengan kendaraaan bermotor perlu membawa Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) dan Surat Ijin Mengemudi (SIM) International yang masih berlaku.

 

“BPKB (Buku Pemilik Kendaraan Bermotor) tidak penting untuk dibawa. Terpenting justru harus mengasuransikan kendaraan. Karena beberapa negara melarang kendaraan bermotor beroperasi bila tidak memiliki jaminan asuransi,” lanjutnya. “Siapkan pula beberapa lembar pas foto diri ukuran 3×4 dan 4×6 sebagai antisipasi bila sewaktu-waktu diperlukan di kantor imigrasi sebuah negara tertentu.”

 

Langkah Memasukkan Kendaraan Bermotor

Kendati prosedur mengurus dokumen izin masuk kendaraan ke sebuah negara telah diatur secara internasional, namun tak jarang beberapa negara menerapkan sebuah proses yang agak berbeda. Agar pengurusan dokumen berjalan lancar penting bagi setiap penjelajah dunia mengingat trik-trik ini.

 

Pertama yang harus dilakukan untuk memasuki sebuah negara adalah mengurus izin masuk kendaraan, bukan diri Anda. Sayangnya, acap kali para pengelana melupakan hal ini. Ketika mereka berhasil masuk, namun kendaraan tertinggal pengurusannya, maka prosesnya akan sangat merepotkan.

 

Ketika kita mengurus izin kendaraan, maka ikutilah prosedur yang berlaku. Isilah formulir Custom Clearence secara cermat. Siapkan pula pas foto karena sering kali hal sepele ini diperlukan.

 

Walau setiap negara memiliki urutan peraturan yang berbeda, namun umumnya petugas pabean (custom) sebuah negara akan memeriksa kendaraan Anda dengan mengecek nomor chassis dan mesin untuk dicocokkan dengan dokumen yang Anda serahkan.

 

Pada kesempatan itu, petugas juga akan memeriksa barang di dalam panniers (boks) yang ada di kendaraan Anda. Agar proses pemeriksaan yang dilakukan berjalan lancar, usahakan untuk tidak membawa senjata api dan narkotika. Alkohol dan rokok yang berlebihan jumlahnya juga perlu dihindari. Pisau lipat yang mungkin Anda perlukan selama perjalanan hendaknya ikut disimpan dalam boks perkakas perbengkelan.

 

Kerapihan penampilan Anda ketika mengurus dokumen sedikit banyak juga akan membantu kelancaran proses legalisasi dokumen. “Usahakan pakai baju bersih dan tidak bau. Dengan penampilan rapi petugas biasanya lebih apresiatif,” saran Jeffrey.

Dia juga menegaskan bahwa sebaiknya dokumen CPD dan STNK tercantum atas nama pengendara. “Selama mengurus dokumen usahakan kendaraan tetap berada dalam pantauan Anda. Paling tidak di bawah pengawasan kamera CCTV. Ini penting untuk menghindari bila ada pihak yang menitip barang terlarang di kendaraan Anda.”

 

Setelah pengurusan kendaraan selesai, Jeffrey menyarankan agar kita segera menuju Kantor Imigrasi untuk mendapatkan ijin melintas (visa) dengan waktu tertentu. “Anda jangan masuk dulu sebelum kendaraan dalam status aman memasuki sebuah negara.”

 

“Bisa dibayangkan bila Anda sudah diijinkan masuk ke sebuah negara, sementara kendaraan Anda tidak diijinkan masuk. Faktanya, Anda memang berdekatan dengan kendaraan Anda, tetapi secara hukum Anda berada di negara yang berbeda dengan tunggangan Anda,” ingat Jeffrey.

 

Kelengkapan Dokumen yang dibutuhkan penjelajah dunia dengan kendaraan bermotor:

  • Passport dengan masa berlaku lebih dari 6 bulan.
  • Visa bila diperlukan. Untuk WNI yang melintas negara-negara Asia Tenggara bisa mendaparkan Visa on Arrival.
  • Carnet de Passage (CPD) untuk kendaraan yang digunakan melintasi sebuah negara. CPD dapat diurus di kantor Ikatan Motor Indonesia (IMI) Pusat di Jakarta.
  • Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) yang masih berlaku.
  • Surat Ijin Mengemudi (SIM) International.
  • Asuransi Kendaraan.
  • Biasakan membawa pas foto ukuran 3×4 dan 4×6 beberapa lembar.

 

Selamat bertualang dan SALAM JELAJAH !!! ***

8 Januari 2013

Musim Dingin Jalur Lintas Kanada Menuju Alaska Ditutup Demi Keamanan Pengendara

VANCOUVER, KANADA — Penjelajah dunia asal Indonesia, Jeffrey Polnaja, masih terus menjalankan misi perdamaian dunia Ride for Peace (RFP) di atas sepeda motor BMW R1150GS. Pengendara kelahiran Bandung, Jawa Barat ini telah memasuki Vancouver, Kanada dari Busan, Korea Selatan sejak Oktober 2012. Selama musim dingin di Vancouver, Jeffrey mengaku banyak mengisi kegiatan RFP dengan agenda sosial.

 

Jeffrey yang meninggalkan Indonesia untuk memulai perjalanan keliling dunia keduanya dari Paris pada Juni 2012 silam, sempat mengalami hambatan ketika mengirim sepeda motor dari Busan ke Vancouver. “Birokrasi pemerintah di Korea Selatan dalam urusan pengiriman kendaraan asing ke luar negeri ternyata sangat rumit, selain itu biaya pengiriman juga sangat tinggi,” katanya Jeffrey.

 

Menurut penjelajah yang telah melintasi negara-negara Eropa, termasuk Siberia hingga Jepang, itu ongkos pengiriman yang diberlakukan di Korea Selatan tidak wajar. “Saya hanya bisa menego dari tarif 4.750 menjadi 4.500 dolar AS untuk sebuah sepeda motor. Bandingkan dengan di Monggolia, di mana untuk tujuan Vancouver hanya dikenakan tarif 1.600 dolar AS. Padahal jaraknya lebih jauh dari Korea ke Vancouver,” lanjutnya.

 

Selain itu, perbedaan waktu antara Kanada dan Korea Selatan yang mencapai 14 jam juga menjadi hambatan dalam proses pengiriman sepeda motor. Jeffrey sendiri meninggalkan Korea Selatan menuju Kanada dengan pesawat terbang. Sementara sepeda motornya menyusul lewat jalur laut dari Busan.

 

“Perbedaan waktu antara Korea dan Kanada jadi masalah dalam urusan pengiriman e-mail (surat elektronik). Saya kirim jawaban hari ini, pihak penerima di Korea baru membalas dua hari kemudian. Begitu seterusnya mengingat proses negosiasi melalui e-mail tidak sekali dua kali,” tambahnya.

 

Beruntung di tengah masalah ini Jeffrey mendapat bantuan dari pihak BMW Belgia. Melalui kontak antara BMW Belgia dengan keagenan resmi BMW di Korea Selatan, sepeda motor R1150GS milik Jeffrey berubah status dari “Dangerous Good” menjadi “Customer Good”. Status ini sangat menolong proses eksport dan dapat menekan biaya pengiriman. Apalagi rekan Jeffrey dari Afrika Selatan, Duncan Johnson, ikut menolong dengan mengenalkan perusahaan ekspedisi terpercaya.

 

Jeffrey baru bisa mengapalkan R1150GS menuju Vancouver pada 1 November 2012 setelah melalui proses negosiasi alot dan berkepanjangan. Ketika menerima sepeda motor berkelir peraknya di Vancouver pada 29 November 2012, Jeffrey pun merogoh kocek 2.000 dolar AS, termasuk biaya penyimpanan di gudang pelabuhan.

 

Meski mengalami tekanan seperti itu, Jeffrey merasa misi RFP tetap konsisten dan  bersemangat dalam menjalankan tujuan mengibarkan bendara promosi Indonesia di kancah dunia. “RFP tak akan surut hanya karena kendala birokrasi seperti itu, saya akan terus menggerakkan roda-roda sepeda motor ini berbagai negara demi nama Indonesia yang harum di internasional.”

 

Bahkan Jeffrey sempat berbicara di depan perkumpulan mahasiswa Korea Selatan dari Busan University of Foreign Studies, atas undangan Prof. Kim Soo Il dari Busan-Indonesia Center. Di tengah para pelajar asing tersebut Jeffrey banyak bercerita tentang pengalaman perjalanan keliling dunianya hingga promosi Indonesia.

 

 

Bersama Mahasiswa Busan University of Foreign Study

 

Di samping itu, selama berada di Vancouver Jeffrey bekerja-sama dengan Bidang Sosial Budaya KJRI Vancouver melakukan paparan dan berdiskusi dengan sekitar 200 mahasiswa asal Indonesia yang menimba ilmu di wilayah British Colombia, Kanada. Tak ketinggalan, dia juga menghadiri pemutaran perdana film Naga Sari, sebuah film indi hasil karya anak bangsa yang menetap di Vancouver. Acara pemutaran film ini juga dihadiri Konsul Jendral KJRI Vancouver, Bapak Bambang Hiendrasto.

 

Bersama Bapak Konjen Bambang Hiendrasto beserta Staff KJRI Vancouver

 

 

Jelas lamanya proses pengiriman motor telah menghambat jadwal keliling dunia RFP. Menurut Jeffrey, akibat masuknya musim dingin di Kanada misi berkendara untuk sementara dihentikan. Jeffrey mengganti kegiatan mengendarai motor dengan program-program dialog dan presentasi ke sejumlah tempat dan komunitas, termasuk hingga ke negara-negara Asia.

 

“Saat musim dingin maka berbagai daerah akan tertutup salju. Secara teknis kondisi itu bisa diatasi. Saya bisa saja tetap riding, meski resiko bahayanya sangat tinggi,” terang Jeffrey. Namun dia memilih tidak melakukannya. Apalagi banyak jalur menuju Alaska saat ini telah ditutup pemerintah Kanada untuk tujuan keselamatan pengguna jalan. “Kalau dilanggar sanksinya berat, dan RFP lebih baik patuh pada aturan di sebuah negara. Misi ini bertujuan baik, maka sewajarnya dijalankan dengan cara yang baik pula.”

 

Bersama Masyarakat Indonesia di Vancouver

 

 

Jeffrey berjanji akan kembali menunggang R1150GS di sekitar bulan Maret 2013 setelah banyak jalur di utara Kanada dibuka kembali untuk dilewati kendaraan. Pria yang telah berkeliling dunia dua kali seorang diri ini berharap perjalanan lanjutannya menuju Amerika Selatan tidak mengalami hambatan berarti. ###

 

Monumen Olimpiade Musim Dingin di Coal Harbour, Vancouver