AMSTERDAM — Penjelajah dunia asal Indonesia, Jeffrey Polnaja, menyatakan tidak patah semangat dan akan terus berjuang melanjutkan misi berkeliling dunia kendati sepeda motor besar BMW R1150GS Adventure yang menjadi sahabat perjalanannya hilang dicuri di Amsterdam, Belanda.
Jeffrey sendiri baru menyadari sepeda motornya telah lenyap pada Jumat (4/5) pagi kemarin, sekitar pukul 08:00 waktu setempat. Kehilangan sepeda motor ini sangat tidak diduga pria asal Bandung tersebut. Pasalnya, Jeffrey memarkir di depan kantor kepolisian yang dinilai sangat aman terhadap aksi pencurian.
“Kabar ini tentu tidak menyenangkan, namun kehilangan sepeda motor tidak sedikit pun menyurutkan misi keliling dunia kedua Ride for Peace. Tekad saya jalan terus, api tak boleh padam,” kata Jeffrey.

“Tekad saya sudah bulat, walau kehilangan motor perjalanan Ride for Peace akan tetap berlanjut, inilah motonya untuk pantang menyerah ” The Road May End, But Not The Spirit of Brotherhood and Peace “. Kita buktikan bahwa kita bangsa besar dan kita tidak akan berhenti walau rintangan besar menghadang,” sebutnya.
Jeffrey mengaku terakhir memarkir motor tersebut pada Kamis (3/5) tengah malam, tatkala dirinya ingin bermalam di Hotel BackStage, di jalan Leidsegracht 114, Amsterdam-Centrum.
Hotel yang berada tepat menghadap sungai itu memiliki lahan parkir yang terbatas, dan terbuka di sisi jalan. Dengan alasan keamanan dan saran petugas di hotel, Jeffrey memarkirkan sepeda motornya di lahan parkir di depan hotel yang berdekatan dengan kantor polisi Lijnbaansgracht Distric 1.
“Sewajarnya sebuah kantor polisi lebih aman dari aksi kejahatan. Namun terkadang fakta di lapangan bisa terbalik. Saya berharap polisi bisa membantu menemukan dan memberi perhatian dalam menangani kasus ini,” ujarnya.
Ditambahkan Jeffrey, kini dirinya telah dibantu pihak Pensosbud (Penerangan, Sosial dan Budaya) KBRI Den Haag (Kedutaan Besar Republik Indonesia), dan atase Kepolisian Republik Indonesia Ary Laksama Widjaja yang secara khusus datang ke Amsterdam dari Den Haag.
“Utusan KBRI dan Atase Kepolisian RI datang ke Den Haag, Sabtu (5/5) pagi. Sekarang kepolisian setempat mulai serius menangani kasus kehilangan sepeda motor saya setelah pihak perwakilan RI turun tangan,” ungkapnya.
Hilangnya sepeda motor Jeffrey di Amsterdam juga telah diberitakan media-media lokal. Hal ini membuat sepanjang Sabtu (5/5) Jeffrey menerima banyak ungkapan simpati, baik yang disampaikan melalui telepon, pesan singkat, maupun surat elektronik.
Stasion TV terkenal di Belanda, SBS6 meminta kesediaan Jeffrey untuk wawancara dengan acara favorit Hart van Netherland. Walau masih diselimuti duka, Jeffrey tetap menunjukan tekad dan semangatnya… Salut !!
Jeffrey sangat berharap sepeda motor buatan 2005 yang telah menjelajahi 72 negara di dunia pada misi Ride for Peace pertama bisa kembali. “Saat ini saya masih terus menunggu kabar dari pihak kepolisian. Semoga ada berita bagus dan motor bersejarah bagi Indonesia itu dapat dikembalikan,” harapnya.
Jeffrey sendiri akan menunggu selambat-lambatnya hingga dua minggu ke depan. Apabila sepeda motor tersebut tidak juga ditemukan, Jeffrey akan menggunakan sepeda motor pengganti dari model dan tahun yang sama.
Jeffrey berada di Amsterdam dalam bagian uji coba kendaraan sebelum digunakan menjelajahi dunia tahap kedua yang akan dimulai dari Paris pada 13 Mei yang akan datang. Sejauh ini uji coba motor tersebut baru mencatat total jarak sekitar 1.000 kilometer menjelajahi Belgia dan Belanda.
Perjalanan Jeffrey kali ini merupakan penjelajahan keliling dunia seorang diri yang kedua dengan sepeda motor. Pada kesempatan ini, Jeffrey mengemban misi “Ride for Peace – Solo Riding Exploring Five Continents on Two Wheels.” Pelepasan Jeffrey telah dilakukan di Jakarta pada 23 April 2012.
Rencananya, Jeffrey akan berkelana sejauh 220.000 kilometer melintasi beberapa negara di Eropa, Amerika Utara, Amerika Tengah, Amerika Selatan dan Australia. Penjelajahan kedua ini tak kalah menantang dari misi pertama, di mana dia melintasi negara-negara di Asia, Afrika, dan Timur Tengah.
Tak kurang dari 30 negara akan disinggahi, mulai dari Perancis, Belgia, Belanda, Jerman, Skandinavia, Polandia, Rusia, Korea Selatan, Jepang, Kanada, Amerika Serikat, Meksiko, Kuba, Kolombia, Nikaragua, Bolivia, Brasil, Argentina, Peru, Selandia Baru, Australia, dan Timor Leste. Jeffrey direncanakan tiba kembali di Jakarta pada tahun 2014. (RFP Info)
Menunggangi motor jenis touring lansiran BMW bertipe R1150GS Adventure Limited Editions, pria kelahiran Bandung 18 Juni 1962, ini mencurahkan segala pengalamannya melalui buku sehingga bisa menjadi panduan sekaligus panutan bagi semua orang. Tampak hadir saat peluncuran buku Wind Rider adalah Adhyaksa Dault, mantan Menpora, Suyono, ketua HDCI, Ari Batubara, Ketua Umum IMI hingga Indro Warkop yang berlokasi di kafe Hot Rod, Jakarta 15 Juni 2011.
“Di dalam buku tersebut, terdapat berbagai cerita menarik seperti keindahan berbagai negara, keunikan orang-orang di luar negeri sampai penembakan dan perampokan di Afganistan. Perjalanan ini memang saya lakukan sebagai bentuk kepedulian dan rasa nasionalisme tinggi serta mengenalkan Indonesia di dunia luar dan membawa pesan perdamaian,” ujar Kang JJ, sapaan akrabnya.
Buku yang dilengkapi tips dan foto-foto perjalanan ini sangat inspiratif. 3 benua yang meliputi Asia, Afrika dan Eropa memberikan kesan tersendiri di hatinya. Misalnya di India motornya mengalami patah lengan ayun dan rusak parah karena masuk lubang, di Pakistan motornya ditabrak hingga rusak parah dan kelaparan, sampai di Afganistan lolos dari rentetan tembakan dan dirampok habis-habisan.
“Banyak juga cerita indahnya seperti menginap gratis di hotel bertarif $3000, melihat keindahan Himalaya hingga mendapat piala juara dari rally France-Tunisia, padahal saya tidak ikut rally tersebut. Saya juga banyak diliput media setempat mulai dari koran, majalah dan TV seperti Vietnam National TV, India TV, Emirates TV Dubai, Channel 2 Saudi, Jordan TV, Afganistan National TV sampai Serbia TV,” jelas Kang JJ.
Buku berkonsep Novel-Travelling ini dijual seharga Rp 64 ribu, hasil kerjasama dengan penerbit Mizan. “Saya sudah memesan 100 buku untuk dibagikan ke Pengda IMI di daerah dan saya berikan catatan di depan bukunya untuk wajib dibaca. Apa yang dilakukan Kang JJ ini sangat luar biasa dan setahu saya belum ada satupun di dunia, ada satu orang keliling dunia pakai motor seorang diri,” tutur Juliari Batubara, Ketua Umum IMI. (M. Lulut)
Disadur dari : http://www.otofinance.co.id/Pages/viewarticle/16/06/11/0001/jeffrey-polnaja-bukukan-kisah-perjalanannya-keliling-dunia.aspx
Angin musim gugur berembus kencang di sepanjang jalan raya dari Minsk, ibu kota Belarusia, menuju Moskow, ibu kota Rusia, Ahad, 9 September lalu. Guyuran hujan lebat membuat suhu makin dingin, menjadi 2 derajat celcius. Di atas jalanan licin ini, sebuah sepeda motor gede (moge) BMW seri R1150 GS melaju kencang.
Stiker peta Indonesia berlatarbelakang bendera Merah Putih terlihat di kaca depan. Tiga kotak muatan terpasang di bagian belakang moge bercat putih itu. Pengemudinya memakai atribut biker lengkap. Jaket hitam tebal dipadu celana dan sepatu hitam. Tak ketinggalan helm putih plus kacamata hitam.
Atribut ini membuat Jeffrey Polnaja, si pengendara, seolah tak peduli dengan terjangan hujan dan udara yang menusuk tulang. Malah, moge-nya sempat dipacu hingga 150 kilometer per jam. Hanya butuh waktu delapan jam untuk melibas 700 kilometer jarak Minsk-Moskow.

Saat motor bernomor D 5010 JJ (singkatan dari “Jurig Jalanan”, julukan buat Jeffrey) masuk ke kota Moskow, hari sudah menjelang senja. Kang JJ –panggilan akrabnya– akan singgah sekitar sepekan di kota paling padat se-Eropa ini. Beberapa acara rutin sudah menanti. Mulai konferensi pers, keliling kota, hingga presentasi di berbagai komunitas.
Pria kelahiran Bandung, 48 tahun lalu ini, mengadakan konferensi pers di Kantor Berita Ria Novosti, 12 September. Acara yang didukung penuh oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Moskow ini menarik perhatian banyak media lokal maupun asing.
Selang sehari, Jeff bertemu dengan ratusan anggota klub motor BMW Rusia di gedung BMW Service Centre. Serbuan pertanyan berbaur kekaguman mengarah ke sang Jurig Jalanan alias Phanthom of The Roads ini. Para anggota klub itu terpesona dengan beragam kisah unik Jeff menjelajahi 72 negara di Asia, Afrika, dan Eropa.
Rusia adalah negara ke-43 dalam rangkaian pengembaraan Jeff keliling dunia naik moge sendirian (solo ride). Di bawah bendera Ride for Peace, ia sudah melibas 75.000 kilometer dari rencana perjalanan 330.000 kilometer. Ini setara dengan 150 kali perjalanan Jakarta-Bali pulang-pergi.
Rute ini terbagi menjadi dua etape, masing-masing selama dua tahun. Pertama, menyusuri negara-negara di Asia, Afrika, dan Eropa. Kedua, menyusuri negara-negara di benua Amerika dan Australia. Jeff mengawali petualangan ini di Jakarta 23 April 2006.
Para bikers negeri beruang merah ini pun antusias menanyakan performa sepeda motor BMW yang digunakan. Total berat motor plus perlengkapan seperti peralatan tidur, memasak, makanan, montir, GPS (global positioning system) mencapai 400 kilogram.
Menurut Jeff, motor yang diberi nama Adventure atau Mahesa (dari bahasa Jawa yang berarti “kerbau”) ini didesain khusus oleh pabrik BMW di Jerman. Motor bermesin 1.150 cc punya kecepatan maksimal 190 kilometer per jam dan kapasitas tangki bensin 30 liter.
Selama perjalanan, Jeff melanjutkan, motornya jarang ngadat. Salah satu trik yang digunakan adalah membagi beban seimbang dan memilih jalan yang pas. ”Kalaupun ada kerusakan kecil, saya reparasi sendiri,” tuturnya.
Lalu apa sih motivasi Jeff sebenarnya? Jeff menuturkan ide petualangan ini muncul saat acara menonton siaran berita bersama keluarga sekitar tujuh tahun lalu. Berita perang di berbagai belahan bumi mendominasi isi berita. Ini mengundang komentar putra keduanya Reidraprasta & Rangga Erlangga yang saat itu baru 11 tahun. “Ayah mengapa mereka memberik contoh buruk pada kami? Lakukanlah sesuatu,” ujar Jeff menirukan anaknya.
Jeff langsung menjawab, apa yang bisa dilakukan oleh seorang pengusaha dan biker sepertinya. Spontan putranya bilang, Jeff bisa kampanye perdamaian dengan mengendarai sepeda motor. “Ide ini menghantui saya,” ujar suami Santi Polnaja ini.
Kemudian ia mulai merintis upaya mewujudkan ide itu. Selain menyebarkan misi perdamaian, Jeff juga ingin mempromosikan Indonesia sebagai negara cinta damai. Sehingga citra sebagai negara teroris yang mulai melekat bisa dilepas. Selain itu perjalanan ini juga menjadi bukti semangat petualangan dan kemerdekaan dari tiap manusia.
Ternyata ide Jeff mendapat dukungan aneka kalangan. Selain karena misinya mulia, juga karena Jeff sudah lama dikenal sebagai biker tangguh selama 28 tahun menggeluti dunia motor. Tahun 1996, Jeff terpilih menjadi “Captain Marlboro Adventure Team” (MAT) di Utah, Amerika Serikat. Ia meraih skor tertinggi pada “Motorcycles Off-Road” di Manti la Sal Nat Park, Amerika Serikat. Selain itu, dialah satu-satunya anggota International Long Rider Society asal Indonesia.
Sekitar 30 pendukung dan sponsor Jeff tergabung dalam tim Ride for Peace Officer yang diketuai Menteri Perindustrian Fahmi Idris. Ada pula tokoh dari beragam klub sepeda motor seperti HDCI (Harley Davidson Club Indonesia), HOG (Harley Owners Group), Biker Brotherhood, dan tentu saja BMCI (BMW Motorcycles Club Indonesia). Beberapa perusahaan juga ikut jadi sponsor. Ada produsen oli Top One, Eiger, Oakley, dan Djarum.
Pemerintah pun tak mau ketinggalan. Ikatan Motor Indonesia (IMI) membantu pembuatan carnette de passage. Semacam passport untuk kendaraan bermotor. Menteri Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault juga menobatkan Jeff sebagai duta bangsa.
Kemudahan seperti ini tak lepas dari karakter Jeff yang ramah, gampang bergaul, dan komunikator. Hanya menguasai bahasa Inggris tak menjadi kendala untuk berkomunikasi dengan puluhan penduduk negara asing. Jika sudah mentok, Jeff biasa menggunakan bahasa tubuh. Dan ternyata bisa dipahami.
Salah satu bukti keampuhan gaya komunikasi Jeff adalah saat ditodong senjata oleh milisi remaja berusia 16 tahun di Laos. Jeff berupaya tenang, lalu mulai mengeluarkan kartu dan main sulap. Mereka jadi terhibur dan membolehkan Jeff lewat.
Ketangguhan Jeff sebagai biker juga teruji saat melewati medan-medan superberat. “Saya melalui bermacam medan, mulai hutan lebat di Bhutan, pegunungan tinggi sepanjang Himalaya, badai gurun pasir, hingga kawasan perang,” Jeff menjelaskan.
Sekretaris Pertama KBRI Moskow, Johannes Manginsela, mengakui kehebatan Jeff menguasai jalanan. Johannes menyaksikan aksi Jeff melibas jalanan berkelok-kelok dan licin dari perbatasan Rusia-Belarusi hingga ke Moskow. Ia naik mobil Mercedes bersama sopir KBRI mengiringi Jeff. “Orangnya bermental baja dan bertekad kuat untuk mencapai tujuan, meski hujan deras menghadang,” ujar Johannes.
Makna misi perdamaian Jeff makin terasa di wilayah-wilayah konflik dan rawan kejahatan yang sempat dilalui. Selama melewati Kabul, Afghanistan, mesin perang, ranjau, dan milisi bersenjata lengkap dari beragam suku menjadi pemandangan umum. Untunglah, berbekal misi perdamaian, Jeff tak mengalami masalah. Malah dia sempat ditemani salah satu kepala suku hingga ke perbatasan kota.
Media massa Afghanistan pun kagum pada Jeff yang masih mau masuk ke negara yang tak aman karena konflik. “Saya datang bukan untuk ikut campur urusan politik dalam negeri, tapi memperkokoh hubungan emosional antar masyarakat berbagai bangsa,” kata Jeff.
Kini, jalinan persahabatan masyarakat antar-bangsa mulai terjalin. Jeff aktif menjaga kontak terutama lewat e-mail dan website. Sebaliknya, beberapa komunitas biker di Eropa juga rajin menampilkan update berita perjalanan Jeff. “Kami terus melanjutkan kontak persahabatan dengan Jeff dan memuat kisahnya di situs kami,“ ujar Vladimir Chaikovsky, After Sales Motorrad Manager BMW Rusia.
Untuk penduduk Indonesia, Jeff menyebarkan misi perdamaian ini lewat buku. Kisah perjalanan Ride for Peace telah dibukukan dalam buku berjudul Wind Rider. Ia berharap makin banyak warga yang terinspirasi untuk berani mencoba, jujur, bermental tangguh dan punya kemauan yang keras. “The road may end, but not our spirit of adventure, brotherhood, and peace,” slogan itulah yang selalu Jeff pegang teguh.
Zvet Zakharov ( Moskow), dan Astari Yanuarti
[Astakona, Gatra No 47 - Update Version )
Jakarta,
Untuk mengapresiasi prestasi yang telah ditorehkan insan otomotif di Tanah Air, Pengurus Pusat Ikatan Motor Indonesia (PP IMI) akan menggelar Malam Penganugerahan IMI Award di Jakarta. IMI Award merupakan penganugrahan tertinggi dan bergengsi yang diberikan PP IMI setiap tahun kepada para atlet berprestasi serta kepada sejumlah tokoh nasional karena dedikasi dan sumbangsihnya terhadap dunia otomotif nasional.
Selain memberikan penghargaan kepada pembalap berprestasi, baik di ajang balap nasional maupun internasional, PP IMI juga akan menganugerahkan Lifetime Achievement Award kepada Jeffrey JJ Polnaja, serta IMI Honorary Member Award dan Special Achievement Award kepada sejumlah tokoh lantaran dedikasi dan sumbangsihnya terhadap perkembangan otomotif nasional, jelas Donni B Prihandana, Ketua Panitia Penyelenggara IMI Award 2009 di Jakarta, Rabu (25/2).
Menurut Donni, Lifetime Achievement Award diberikan kepada Jeffrey JJ Polnaja lantaran prestasinya yang luar biasa, yaitu sebagai orang Indonesia pertama yang melakukan perjalanan solo keliling dunia dengan mengendarai sepeda motor.
JJ mencatat sejarah setelah melakukan perjalanan selama 2 tahun 7 bulan ke lebih 72 negara di tiga benua, yakni Asia, Afrika dan Eropa. Pada bulan Mei 2012, JJ akan melanjutkan misi tahap keduanya dengan mengelilingi kawasan Amerika Utara, Amerika Selatan dan Australia.
Prestasi yang diukir JJ patut mendapat apresiasi setinggi-tingginya, yaitu dengan memberikan penghargaan Lifetime Achievement Award. Dan, penghargaan itu akan kami berikan pada malam penganugerahan IMI Award, jelas Ketua Umum PP IMI, Juliari P. Batubara.
Lifetime Achievment Award merupakan Penghargaan Tertinggi yang dapat diperoleh insan otomotif di Indonesia. Tidak heran bila selama lebih dari 100 tahun IMI berdiri, baru 2 orang saja yang berhasil memperolehnya dan JJ satu diantaranya.
(PP-IMI)
London, 17 Juni 2009 15:34
Penjelajah dunia dengan sepeda motor asal Bandung, Jeffrey Polnaja, saat ini berada di Swedia untuk melanjutkan perjalanannya menuju Kutub Utara (Midnight Sun), Nordkapp, di Norwegia. Di ujung paling utara benua Eropa yang termasyur dengan Midnight Sun, tempat matahari terus menerus bersinar selama 24 jam. Jeffrey Polnaja merupakan orang Indonesia Pertama yang berkeliling dunia dengan sepeda motor, misi perjalanannya bertajuk “Ride for Peace”.
Sekretaris Satu Penerangan dan Sosial Budaya KBRI Swedia, Dody Sembodo Kusumonegoro, kepada Antara di London, Rabu (17/6), mengatakan, kunjungan Jeffrey ke Swedia memenuhi undangan penggemar petualang sepeda motor di Eropa. Para pengemar sepeda motor ini berkumpul di Säfsen Resort menghadiri “Adventure Days 2009?. Menurut Dody, tercatat 350 penjelajah kelas dunia hadir meramaikan acara tersebut. Jeffrey merupakan satu-satunya peserta dari Asia, dan juga menjadi satu dari empat narasumber yang bakal tampil berbagi pengalamannya menjelajahi dunia. Tiga narasumber lainnya adalah Fredrik Persson, Nisse Holmström, dan Olof Sundström. Tentu saja hal ini sangat membanggakan dan patut mendapat acungan jempol, Indonesia terbukti dapat berdiri sama tinggi dengan negara lainnya, tidak hanya di Asia tapi juga di Eropa.
Salah seorang petinggi BMW Motorrad Sverige, Fredrik Wadin, menyampakan penghargaan dan mengucapkan salut atas perjalanan spektakuler yang sudah dilakukan penjelajah dunia asal Indonesia ini. “Tentu saja penjelajahan ini juga mengharumkan nama Indonesia di pentas International,” pujinya.
Melintasi lintang Kutub Utara itu bakal mencatat sejarah tersendiri bagi pemilik nama lengkap Jeffrey Ronny Polnaja itu, yang mendapat penghargaan kehormatan “Lifetime Achievement Award” oleh Ikatan Motor Indonesia (IMI) itu. Penghargaan tersebut adalah penghargaan tertinggi yang dapat diberikan pada tokoh otomotif di Indonesia, hal ini mengingat kiprah pria yang akrab disapa Kang JJ alias jurig jalanan alias setan jalanan ini, memang tak dapat dipandang “sebelah mata”.
Tak hanya melakukan solo touring keliling dunia, namun Jeffrey juga mengemban misi perdamaian bertajuk “Ride for Peace”, lebih dari 72 lebih negara di tiga benua telah disambanginya seorang diri. Saat ini Kang JJ ditemani Joachim Brannas, Klas Nystrom, Gunnar Alfen penjelajah asal Swedia dan Jounni Pekonen penjelajah asal Finlandia, mereka berhasil melintasi Artic’s Cyrcle Kutub Utara dan kembali ke Nordkapp, ujung paling utara Norwegia.
Tiba tiba malam ini saya membayangkan mentalitas macam apa yang dimiliki “vintage” friend saya Jeffrey Polnaja atawa kang Jeje atau JJ yang berkeliling dunia naik motor dan sendirian. Apakah kebanyakan orang akan berpikir “euweuh gawe” alias kagak ada kerjaan atau sebaliknya ?
Jangan keburu berpikiran macam macam, misi dia dengan aktifitas ini adalah „Ride for Peace“ misinya didefinisikan sebagai : “dedicated mission for Worldwide Peace. The road to recovery through the virtue of strengthening people to people ties between Indonesia and the world; touching the hearts and minds of the world societies.” Ia secara resmi menjadi duta Indonesia bagi perdamaian demikian Adhyaksa Dault ketika melepas anak muda asal Bandung ini pada 23 April 2006 di Jakarta. Saya memang merasa bersalah. Selepas start yang dilakukannya di Jakarta itu saya bilang saya akan menulisnya sebagai rasa simpati. Tapi entah kenapa hingga Oktober 2007 saya baru diingatkan lagi ketika serombongan teman dari Bandung datang bercerita tentang dia dan saat itu berusaha menelpon Kang Jeje lewat selularnya namun tidak aktif. Lalu saya pun tak ingat lagi selepas itu.
Kang Jeje saya kenal di klub VW sepuluh tahun lalu dan merupakan salah satu senior di klubnya Volkswagen Club Bandung. Jeje atau JJ yang menjadi nickname-nya adalah singkatan dari “Jurig Jalanan” atau “Phantom of the Road”, jiwa adventurnya memang sangat kental melekat pada dirinya. Jika kita bertemu muka dengannya segera kita akan tau karakter “ngoboy”-nya. Jauh sebelum menjalani “ride for Peace” ini ia telah mengalami banyak petualangan baik yang dilakukannya secara grup maupun sendiri dengan naik motor. Solo tripnya yang pertama dengan motor dilakukannya tahun 1978 dengan menggunakan motor CB 100 dari Bandung ke Bali return. Ia aktif dan berprestasi di olahraga berkuda dan bermotor mewakili Bandung dan Indonesia. Tahun 1996 terpilih menjadi “Captain Marlboro Adventure Team” (MAT) di Utah, Amerika Serikat. Ia meraih skor tertinggi pada “Motorcycles Off-Road” di Mantila Sal Nat Park, Amerika Serikat. Selain itu, dialah satu-satunya anggota International Long Rider Society asal Indonesia.
Dengan menggunakan Motor BMW R1150GS `Adventure` bernomor polisi D 5010 JJ yang diberi nama Mahesa (bahasa Jawa yang artinya “kerbau”) ini didesain khusus oleh pabrik BMW di Jerman. Motor bermesin 1.150 cc dapat „digeber“ dengan kecepatan maksimal 190 kilometer per jam dan kapasitas tangki bensin 30 liter. Total berat motor plus perlengkapan seperti peralatan tidur, memasak, makanan, montir, GPS (global positioning system) mencapai 400 kilogram. Rute yang dilalui Kang Jeje terbagi menjadi dua etape, masing-masing selama dua tahun. Pertama, menyusuri 50 negara di Asia, Afrika, dan Eropa. Kedua, menyusuri sekitar 54 negara di benua Amerika dan Australia. Diprakirakan petualangan perdamaiannya ini akan berakhir tahun 2011, karena ada selang rehat setahun di antara dua etape.
Sekelumit kisahnya dapat kita lihat di situs resmi “Ride for Peace”. Dalam emailnya dia menulis: “Banyak yang menolong dengan memberi makan minum dan penginapan gratis,” bahkan pernah nginap gratis di kamar hotel bertarif US$ 3.000 per malam yang menanggung adalah seorang pengusaha di Dubai, Uni Emirat Arab.
Kemudahan seperti ini tak lepas dari karakter Kang Jeje yang ramah, gampang
bergaul, dan komunikatif. Walau hanya menguasai bahasa Inggris tak menjadi kendala untuk berkomunikasi dengan penduduk negara asing. Jika sudah mentok, ia biasa menggunakan bahasa “tarzan”. Dan ternyata bisa dipahami. Salah satu bukti keampuhan gaya komunikasi Kang Jeje adalah saat ditodong senjata oleh milisi remaja berusia 16 tahun di Laos. Kang Jeje berupaya tenang, lalu mulai mengeluarkan kartu dan main sulap. Mereka jadi terhibur dan membolehkan Kang Jeje lewat. Hebring Euy…
Makna misi perdamaian Kang Jeje makin terasa di wilayah-wilayah konflik dan rawan kejahatan yang sempat dilalui. Selama melewati Kabul, Afghanistan, mesin perang, ranjau, dan milisi bersenjata lengkap dari beragam suku menjadi pemandangan umum. Untunglah, berbekal misi perdamaian, Kang Jeje tak mengalami masalah.
Semua kisah dalam perjalanannya dituangkan dalam diary termasuk merasakan dingin menunggang Mahesa di wilayah pegunungan Himalaya dengan suhu minus 18 derajat celcius. Dalam perjalanannya yang edan ini Kang Jeje telah merekam lebih dari 30.000 gambar dan merusakkan 4 kamera. Kelak, katanya jika sudah usai perjalanan ini akan membagi pengalamannya yang lengkap dalam sebuah buku, agar banyak anak bangsa terinspirasi oleh perjalanannya.
Lalu dimanakah saat ini dia berada? Melihat update info di situs “Ride for Peace” sekarang ia berada di Rumania dan masih panjang perjalanannya untuk kembali ke negeri tercinta ini. Apa benar misinya ini efektif sebagai misi perdamaian dunia sekaligus duta pariwisata Indonesia? Kalo tidak percaya ketik namanya di search engine dan lihat satu persatu komentar dan berita tentangnya di Negara-negara yang dilaluinya. Yang ia lakukan menurut saya sesungguhnya adalah bagian dari program “Branding Indonesia” ke mancanegara yang dilakukan secara independent alias inisiatif sendiri. Bukan hanya untuk kebanggaan tapi juga untuk menunjukkan ketangguhan bangsa. Maka marilah kita doakan Kang Jeje semoga misinya tercapai, perjalanannya lancar dan kembali ke Indonesia dengan selamat. Dan semangatnya mampu memotivasi kita untuk berkarya menjadi duta Indonesia. Buat Kang Jeje, whatever people said, you are the one! Perahu dibuat bukan untuk ditambat di pelabuhan, Ia harus mengarungi samudera dan hanya singgah di pelabuhan….
Sabtu 15 Maret 2008
Diolah dari berbagai informasi
AYIP BALI
ndonesian motorbike rider Jeffrey Polnaja has visited over 62 countries among them Iran, Burma, Pakistan, Bangladesh, Saudi Arabia, Jordan, Egypt and China. He is due to finish ‘ride for peace’ around the world in 2011.
“I am just a rider, but I hope to see peace in the world. I hope (politicians) will make peace part of their policy,” said Polnaja in an interview with Adnkronos International (AKI).
“I want to share peace with all the people in the world. We only have one planet, and it is not for us, it is for our grandchildren,” he said.
His journey began in 2006 in Indonesian capital Jakarta after his eight-year-old son asked him why the world is in such a state of war.
His ‘peace ride’ has already taken him to to 62 countries and by the time he finishes his journey he will have visited 100 countries in all five continents.
Polnaja, who is 45, said he felt particularly close to Afghanistan (photo), where he would hear gunshot wherever he went.
He comes from Bandung in the Indonesian province of West Java.
Polnaja said he was shot three times in a South Asian country, although he declined to name it.
After crossing through the notorious Khyber Pass, which links Afghanistan with Pakistan, he was hit by a drunk driver in the the Pakistani province of Baluchistan, near the border with Iran.
His expensive motorbike was badly damaged, its navigation system destroyed and his right arm was broken in the accident, which left-him stranded in the desert for days.
During that time he recalled having hallucinations and seeing birds fly over his head that he believed would attack him after his death.
“I only had me, my bike and my god,” said Polnaja.
“I had an adrenaline rush, and decided to ride as fast as I could,” he told AKI.
He then encountered a truck driver who gave him directions to get to the nearest town so he could find food and shelter.
After this near-death experience, he crossed into Iran, where he was escorted through the dangerous border area between Pakistan and Iran, where opium is smuggled from Afghanistan
Polnaja told AKI that although Iran is usually portrayed as being a ‘dangerous’ and ‘bad’ country, his experience was quite the opposite.
“Iranians fixed my motorbike at no cost, saying: ‘We do not want your money, you are representing us, go for peace, we want peace’,” Polnaja told AKI.
He said he is very grateful to Iranians. His sponsors offered him a new motorbike, an offer he refused, preferring to continue his journey on the same bike once it was repaired.
Polnaja has had to get a visa for nearly every country he has visited, and is making the journey alone, with a specially equipped BMW motorbike.
As well as a navigation system, the motorbike has a video camera and extra containers for tools and supplies specially designed for long distance rides.
He has already clocked up 101,000 kilometres and still has nearly 40 more countries to visit on his ‘ride for peace’.
During his stay in Rome, he visited the Town Hall and is due to visit Vatican city. He will visit San Marino and Venice on Italy’s Adriatic coast, before heading to Austria and Slovenia.(AKI/rideforpeace)
Etape pertama petualangan ke lima benua ”si Jurik Jalanan” Jeffrey Polnaja hampir berakhir. Misi perdamaian dunianya menyentuh hati penduduk berbagi negara. Citra Indonesia ikut terangkat.
Angin musim gugur berembus kencang di sepanjang jalan raya dari Minsk, ibu kota Belarussia, menuju Moscow, ibu kota Russia, Ahad, 9 September lalu. Guyuran hujan lebat membuat suhu makin dingin, menjadi 2 derajat celcius. Di atas jalanan licin ini, sebuah sepeda motor gede (moge) BMW seri R1150 GS melaju kencang.
Stiker peta Indonesia berlatarbelakang bendera Merah Putih terlihat di kaca depan. Tiga kotak muatan terpasang di bagian belakang moge bercat putih itu. Pengemudinya memakai atribut biker lengkap. Jaket hitam tebal dipadu celana dan sepatu hitam. Tak ketinggalan helm putih plus kacamata hitam.
Atribut ini membuat Jeffrey Polnaja, si pengendara, seolah tak peduli dengan terjangan hujan dan udara yang menusuk tulang. Malah, moge-nya sempat dipacu hingga 150 kilometer per jam. Hanya butuh waktu delapan jam untuk melibas 700 kilometer jarak Minsk-Moskow.
Saat motor bernomor D 5010 JJ (singkatan dari ”Jurik Jalanan”, julukan buat Jeffrey) masuk ke kota Moskow, hari sudah menjelang senja. Jeff –panggilan akrabnya– akan singgah sekitar sepekan di kota paling padat se-Eropa ini. Beberapa acara rutin sudah menanti. Mulai konferensi pers, keliling kota, hingga presentasi di berbagai komunitas.
Pria berdarah Ambon kelahiran Bandung, 45 tahun lalu ini mengadakan konferensi pers di Kantor Berita Ria Novosti, 12 September. Acara yang didukung penuh oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Moscow ini menarik perhatian banyak media lokal maupun asing.
Selang sehari, Jeff bertemu dengan ratusan anggota klub motor BMW Russia di gedung BMW Service Centre. Serbuan pertanyan berbaur kekaguman mengarah ke sang Jurik Jalanan alias Phanthom of The Roads ini. Para anggota klub itu terpesona dengan beragam kisah unik Jeff menjelajahi 42 negara di Asia, Afrika, dan Eropa.
Rusia adalah negara ke-43 dalam rangkaian pengembaraan Jeff keliling dunia naik moge sendirian (solo ride). Di bawah bendera Ride for Peace, ia sudah melibas 75.000 kilometer dari rencana perjalanan 330.000 kilometer. Ini setara dengan 150 kali perjalanan Jakarta-Bali pulang-pergi.
Rute ini terbagi menjadi dua etape, masing-masing selama dua tahun. Pertama, menyusuri 50 negara di Asia, Afrika, dan Eropa. Kedua, menyusuri sekitar 54 negara di benua Amerika dan Australia. Jeff mengawali petualangan ini di Jakarta 23 April tahun silam. Dan akan berakhir tahun 2011, karena ada selang rehat setahun di antara dua etape.
Para bikers negeri beruang merah ini pun antusias menanyakan performa sepeda motor BMW Jeff. Total berat motor plus perlengkapan seperti peralatan tidur, memasak, makanan, montir, GPS (global positioning system) mencapai 400 kilogram.
Menurut Jeff, motor yang diberi nama Mahesa (dari bahasa Jawa kuno yang berarti kerbau) ini didesain khusus oleh pabrik BMW di Jerman. Motor bermesin 1.150 cc punya kecepatan maksimal 190 kilometer per jam dan kapasitas tangki bensin 30 liter.
Selama perjalanan, Jeff melanjutkan, motornya tak pernah ngadat. Salah satu trik yang digunakan adalah membagi beban seimbang dan memilih jalan yang pas. ”Kalaupun ada kerusakan kecil, saya reparasi sendiri,” tuturnya.
Lalu apa sih motivasi Jeff sebenarnya? Jeff menuturkan ide petualangan ini muncul saat acara menonton siaran berita bersama keluarga sekitar tujuh tahun lalu. Berita perang di berbagai belahan bumi mendominasi isi berita. Ini mengundang komentar putra keduanya Rendra Tasta yang saat itu baru 10 tahun. ”Ayah mengapa mereka memberik contoh buruk pada kami? Lakukanlah sesuatu,” ujar Jeff menirukan anaknya.
Jeff langsung menjawab, apa yang bisa dilakukan oleh seorang pengusaha dan biker sepertinya. Spontan putranya bilang, Jeff bisa kampanye perdamaian dengan mengendarai sepeda motor. ”Ide ini menghantui saya,” ujar suami Milly Ermilia ini.
Kemudian ia mulai merintis upaya mewujudkan ide itu. Selain menyebarkan misi perdamaian, Jeff juga ingin mempromosikan Indonesia sebagai negara cinta damai. Sehingga citra sebagai negara teroris yang mulai melekat bisa dilepas. Selain itu perjalanan ini juga menjadi bukti semangat petualangan dan kemerdekaan dari tiap manusia.
Ternyata ide Jeff mendapat dukungan aneka kalangan. Selain karena misinya mulia, juga karena Jeff sudah lama dikenal sebagai biker tangguh selama 28 tahun menggeluti dunia motor. Tahun 1996, Jeff terpilih menjadi “Captain Marlboro Adventure Team” (MAT) di Utah, Amerika Serikat. Ia meraih skor tertinggi pada “Motorcycles Off-Road” di Manti la Sal Nat Park, Amerika Serikat. Selain itu, dialah satu-satunya anggota International Long Rider Society asal Indonesia.
Sekitar 30 pendukung dan sponsor Jeff tergabung dalam tim Ride for Peace Officer yang diketuai Menteri Perindustrian Fahmi Idris. Ada pula tokoh dari beragam klub sepeda motor seperti HDCI (Harley Davidson Club Indonesia), HOG (Harley Owners Group), Biker Brotherhood, dan tentu saja BMCI (BMW Motorcycles Club Indonesia). Beberapa perusahaan juga ikut jadi sponsor. Ada produsen oli Top One, Eiger, Oakley, dan Djarum.
Pemerintah pun tak mau ketinggalan. Ikatan Motor Indonesia (IMI) membantu pembuatan carnette de passage. Semacam passport untuk kendaraan bermotor. Menteri Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault juga menobatkan Jeff sebagai duta bangsa. Tak mengherankan jika semua KBRI di negara yang masuk rute Ride for Peace selalu memfasilitasi Jeff.
Dukungan moril, fasilitas hingga dana ini sangat membantu kesuksesan misi Ride for Peace. Maklum, ongkos perjalanan sepanjang satu etape saja sudah lebih dari Rp 1,5 milyar. Itu pun sudah banyak dibantu oleh penduduk lokal yang bersimpati pada misi Jeff. ”Banyak yang suka menolong dengan memberi makan minum dan penginapan gratis,” kata Jeff, yang pernah diinapkan gratis di kamar hotel bertarif US$ 3.000 per malam oleh seorang pengusaha di Dubai, Uni Emirat Arab.
Kemudahan seperti ini tak lepas dari karakter Jeff yang ramah, gampang bergaul, dan komunikator. Hanya menguasai bahasa Inggris tak menjadi kendala untuk berkomunikasi dengan puluhan penduduk negara asing. Jika sudah mentok, Jeff biasa menggunakan bahasa tubuh. Dan ternyata bisa dipahami.
Salah satu bukti keampuhan gaya komunikasi Jeff adalah saat ditodong senjata oleh milisi remaja berusia 16 tahun di Laos. Jeff berupaya tenang, lalu mulai mengeluarkan kartu dan main sulap. Mereka jadi terhibur dan membolehkan Jeff lewat.
Ketangguhan Jeff sebagai biker juga teruji saat melewati medan-medan superberat. ”Saya melalui bermacam medan, mulai hutan lebat di Bhutan, pegunungan tinggi sepanjang Himalaya, badai gurun pasir, hingga kawasan perang,” Jeff menjelaskan.
Sekretaris Pertama KBRI Moscow, Johannes Manginsela, mengakui kehebatan Jeff menguasai jalanan. Johannes menyaksikan aksi Jeff melibas jalanan berkelok-kelok dan licin dari perbatasan Russia-Belarussia hingga ke Moscow. Ia naik mobil Mercedes bersama sopir KBRI mengiringi Jeff. ”Orangnya bermental baja dan bertekad kuat untuk mencapai tujuan, meski hujan deras menghadang,” ujar Johannes.
Makna misi perdamaian Jeff makin terasa di wilayah-wilayah konflik dan rawan kejahatan yang sempat dilalui. Selama melewati Kabul, Afghanistan, mesin perang, ranjau, dan milisi bersenjata lengkap dari beragam suku menjadi pemandangan umum. Untunglah, berbekal misi perdamaian, Jeff tak mengalami masalah. Malah dia sempat ditemani salah satu kepala suku hingga ke perbatasan kota.
Media massa Afghanistan pun kagum pada Jeff yang masih mau masuk ke negara yang tak aman karena konflik. ”Saya datang bukan untuk ikut campur urusan politik dalam negeri, tapi memperkokoh hubungan emosional antar masyarakat berbagai bangsa,” kata Jeff.
Kini, jalinan persahabatan masyarakat antar-bangsa mulai terjalin. Jeff aktif menjaga kontak terutama lewat e-mail dan website. Sebaliknya, beberapa komunitas biker di Eropa juga rajin menampilkan update berita perjalanan Jeff. ”Kami terus melanjutkan kontak persahabatan dengan Jeff dan memuat kisahnya di situs kami,” ujar Vladimir Chaikovsky, After Sales Motorrad Manager BMW Rusia.
Untuk penduduk Indonesia, Jeff menyebarkan misi perdamaian ini lewat buku. Kelak kisah perjalanan Ride for Peace akan dibukukan. Ia berharap makin banyak warga yang terinspirasi untuk berani mencoba, jujur, bermental tangguh dan punya kemauan yang keras. ”The road may end, but not our spirit of adventure, brotherhood, and peace,” slogan itulah yang selalu Jeff pegang teguh.
Astari Yanuarti dan Svet Zakharov ( Moscow)
Catatan :
Liputan diatas pernah dimuat di majalah Gatra edisi No 47/XIII Tanggal 7 Oktober 2007. Saat ini Jeffrey Polnaja sudah pulang ke tanah air dan sedang merencanakan perjalanan etape kedua dari Asia menyeberang ke Amerika lewat selat Bering masuk ke Alaska dan dilanjutkan terus ke Amerika Selatan. Jeffrey Polnaja baru saja tampil di acara KickAndy di Metro TV pada tanggal 30 Januari 2009 lalu.
Test